Sejarah Berdirinya AFEBIS

 
Terselenggaranya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Kementerian Agama RI merupakan respon terhadap perkembangan dunia ekonomi Islam di tengah masyarakat Indonesia. Ekonomi Islam tidak saja menjadi wacana tetapi menjadi sebuah keninscayaan yang berkembang di masyarakat ekonomi dengan munculnya berbagai lebaga perekonomian syariah baik berupa Lembaga Perbankan Syariah, modal syariah, bisnis syariah dan berbagai aktifitas masyarakat.

Sebagai Fakultas baru, FEBI harus bersiap untuk mewujudkan harapan masyarakat dan para pengguna lulusan (stake holder). Masyarakat berharap FEBI bisa memproduk sarjana berkarakter yang berbeda dengan FEB/FEBI di luar Kementerian Agama. Begitu juga degan stake holder juga menginginkan lulusan FEBI trampil tidak saja mempunyai skill profesional sekaligus memiliki nilai-nilai amanah dalam praktek menerapkan prinsip prinsip ekonomi syariah.

Untuk mempersiapkan harapan masyarakat yang sedeikian besarnya, maka perlu dipersiapkan berbagai hal diantaranya mempersiapkan kurikulum yang mampu memadukan tuntutan profesi sekaligus tetap mempertaahankan nilai-nilai keagamaan sbg PTKN. Di samping itu juga diperlukan jejaring dan kerjasama baik internal FEBI maupun kerjasama dengan berbagai institusi penyelenggaran maupun pengguna Ekonomi dan Bisnis.
Disadari bahwa untuk mempersiapakan kurukulum yang baik, penelitian, pengabdian dan pulikasi ilmiah serta jejaring yang luas, maka dibentuklah Fakultas baru di lingkungan IAIN/UIN dengan nama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam disingkat FEBI di lingkungan Kementerian Agama RI.

Menurut The Times Higher Education Supplement  (THES), untuk menjadi unggul, setidaknya ada empat indikator penting yang diperhatikan di sebuah perguruan tinggi (universitas), yaitu: 1) kualitas riset, 2) Daya Serap Lulusan ke Dunia Kerja (graduate employability), 3) Daya Pandang Internasional (International Outlook), yang ditentukan oleh jumlah program studi bertaraf internasional dan jumlah mahasiswa internasional, dan 4) Kualitas Pengajaran, yang ditentukan oleh rasio dosen dengan mahasiswa.

1)      Pada tangga 17 Desember 2013 Peresmian 6 FEBI di lingkungan Kemeneterian Agama RI di d loncing oleh Menteri Agama RI, Bapak Suryadharma Ali. Piagam pendirian FEBI di enam UIN/IAIN ditandatangani langsung oleh Menteri Agama RI tertanggal 14 Desember 2013. Pelaksanaan lounching di Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar secara bersamaan enam FEBI.

  1. FEBI Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar
  2. FEBI Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijogo Yogyakarta
  3. FEBI IAIN Walisongo Semarang
  4. FEBI IAIN Sumatera Utara
  5. FEBI IAIN Surakarta
  6. FEBI IAIN Raden Fattah Palembang

2)      Pada tanggal 9-10 Oktober 2014 diselenggarakan Lokakarya Pengembangan Kurukulum Ekonomi Islam dan  Pembentukan  Forum  Pimpinan  Fakultas  Ekonomi Bisnis  Islam   Di Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri di FEBI IAIN Walisongo Semarang yang diikuti oleh 8 FEBI di seluruh Indonesia, 8 FEBI, 1 FSEI, dan 1 FEKONSOS. Peserta dari FEBI Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, FEBI Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijogo Yogyakarta, FEBI IAIN Walisongo Semarang, FEBI IAIN Sumatera Utara, FEBI IAIN Surakarta, FEBI IAIN Raden Fattah Palembang, FSEI Aceh dan FEKONSOS Riau.


Beberapa hal yang dihasilkan di antaranya adanya kerjasama dalam pengembangan kurikulum, akademik, penelitian, pengabdian dan publikasi ilmiah. Pokok-pokok masalah yang menjadi pembicaraan diantaranya:
  1.  FEBI secara massal dideklarasikan oleh Menteri Agama pada tanggal 17 Januari 2014 di UIN Makassar. Ada 6 FEBI yakni, Makassar, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Palebang, dan Medan. Sementara Tulung Agung dan Padang Sidimpuan dideklarasikan bersamaan dengan alih status STAIN-IAIN. Juga masih ada yang berproses dari FSEI ke FEBI seperti Aceh, serta masih eksis FEB dengan tambahan prodi ekonomi syariah dan perbankan syariah seperti Riau, Jakarta, dan Malang. Ada yang kelahirannya normal dan ada yang sesar (by desain dan by accident).
  2. Secara de jure kita telah diakui sebagai bagian dari AFEBI (Asosiasi FEB Indonesia), namun secara de facto kita masih perlu menampakkan eksistensinya dalam dunia penyelenggaraan pendidikan tinggi ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sebagai gambaran di lingkungan FEBI Kementerian Agama belum ada kesepahaman tentang bentuk prodi yang nota bene berbasis pada rumpun Imu Ekonomi di Indonesiaa.
  3. Sesuai dengan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 36/2009 tentang pembidangan ilmu dan gelar, belum ada istilah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Yang ada adalah prodi Ekonomi Islam dan Perbankan Syariah yang masih menjadi bagian dari Fakultas Syariah atau Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam. Begitu juga  dengan Peraturan Dirjen Diktis 1429/2012 tentang Penataan Prodi, FEBI belum muncul beserta prodi-prodi yang ada di FEBI. Info terakhir draf penataan prodi baru di lingkungan PTKN masih belum di tanda tangani Menteri Agama.
  4. Sebagai bayi yang lahir di tahun 2014, FEBI dihadapkan pada berbagai persoalan ke depan yakni persaingan global Masyarakat Ekonomi ASEAN yang penuh dengan harapan sekaligus tantangan bagi para penyelenggaran pendidikan tinggi di Indonesia. Di bukanya kran MEA tentunya menjadi penyemangat bagi kita untuk senantiasa memperhatikan kualitas FEBI di lingkunga Kementerian Agama RI (problem eksternal).
  5. Tantangan kedua adalah problem akademik di mana Kementerian Agama hanya diperbolehkan untuk memberikan ijin terhadap prodi-prodi keagamaan di lingkungan Kemerterian Agama. Sementara di bawah kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bisa dibuka prodi keagamaan seperti PAI, EI yang sama persis dengan ijin yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama (problem internal). Secara akademik ekonomi Islam yang kita kembangkan di FEBI adalah ilmu ekonomi yang terkandung di dalamnya nilai-nilai Islam. Sementara ekonomi Islam di PTU merupakan bagian dari ilmu ekonomi.
  6. Untuk  itu dibutuhkan persiapan yang matang agar FEBI ke depan bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dengan mengefektifkn peran sertanya dalam penyelenggaraan tri dhrma perguruan tinggi, dengan beberapa upaya yang bisa kita lakukan.

a)      Pendidikan dan pengajaran; dengan penataan ulang prodi-prodi di FEBI beserta blue print kurikulum standarnya.

b)      Penelitian dan Peengabdian Masyarakat; perlu segera ada jejaring pengelolaan jurnal yang representatif sebagai wahana publikasi keilmuan FEBisekalgus pengabdian masyarakat dengan mensosialisasi ilmu-ilmu ekonomi Islam.

c)      Pengembangan jejaringn kelembagaan FEBI. Kerjasama di antara FEBI/FEB di lingkungan Kementerian Agama merupakan kekuatan besar yang bisa mewarnai ekonomi Islam.

d)      Pengembangan Penjaminan Mutu di lingkungan FEBI dengan meningkatkan upaya-upaya positif sesuai dengan peratuan BAN-PT.

7.      Melalui acara Lokakarya Pengembangan FEBI di Semarang ini diharapkan menghasilkan keputusan-keputusan strategis agar FEBI bisa secepatnya eksis baik secara dejure maupun de facto. Di antaranya:

a)      Terbentuknya Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sebagai wadah untuk melakukan konsultasi.

b)      Terbentuknya jejaring penerbitan jurnal akreditasi di lingkungan FEBI di kementian agama.



3)      Pada 2-4 Oktober 2015 dilaksanakan Lokakarya Pengembangan Kurikulum Manajemen Syariah di FEBI UIN Medan. Kegiatan ini dihadiri oleh 24 FEBI dan FSEI dari UIN/IAIN/STAIN se Indonesia.

Beberapa peserta yang hadir, di antaranya:

  1. IAIN Banten, Dekan FEBI Dr. Masruroh, M.Si.
  2. IAIN Palopo,  FEBI, Tajudin Kajur PBS.
  3. IAIN Bukittinggi, Dekan FEBI  Dr. Arfandi, (PBS D,3, PBS, EI)
  4. IAIN Purwokerto, Dekan FEBI Dr. Fathul Aminudin Azizi.
  5. UIN Surabaya, FEBI. Hammis Syafa Wadel 1. (EI. Manajemen, Akuntansi dan Ilmu Ekonomi)
  6. UIN Ar Raniry, FEBI wadek Yasir Yusuf, (Ilmu Ekonmi, Ekonomi Syariah, Perbankan Syariah (d,3 dan S.1).
  7. STAIN PEKALONGAN, Ketua Prodi EI, Susminingsih.
  8. IAIN Salatiga, Dekan FEBI Anton Bawono (PBS, S.1 dan D.3, dan ES)
  9. UIN Alauddin Makassar, Dekan Prof Ambo Asse. Didiirikan 17 Juli 2013 dan  14 Desember 2013 FEBI diresmikan.
  10. IAIN Zawiyah Cotkala Langsa, Dekan FEBI Dr. Budiman, (PBS, EI)
  11. IAIN Padangsidempuan, Wadek FEBI.
  12. UIN Jakarta, FEB Arif dan Desmadi, (Ak, Manajamen, ISP, EI dan PBS)
  13. FEBI UIN Semarang (Dr. Imam Yahya, Dekan/ Wahab Zaenuri, WD.2)
  14. UIN Malang, Nur Asnawim dan Misbahul Munir, FE Ketua Manajemen/Akuntasni.PBS/EI).
  15. IAIN Surakarta, Aziz Slamet Wiyono wadek 1 FEBI.(manajemen syariah, pernabankan syariah dan akuntansi syariah).
  16. IAIN Pontianak, FSEI.
  17. UIN Palembang, Edison Dekan FEBI. (EI, PBS D.3 dan S.1).
  18. IAIN Jambi, Subhan Muhammada Abdurrahman Dekan FEBI.
  19. IAIN Samarinda. (prodi EI dan PBS).
  20. STAIN Jurai Siwo Lampung, Siti (PBS/PBS/EI/HEI)
  21. IAIN Imam Bonjol, Ahmad Wira Dekan FEBI Padang.
  22. Univ Brawijaya Ketua Prodi Ekonomi Islam, Dr. Iswandi.
  23. IAIN Bengkulu, FSEI (PBS dan ES).
  24. STAIBAR Barumun Sibuhuan,
  25. UIN Medan, FEBI.
4)      Pada tanggal 4-5 Februari 2016 diselenggarakan Rapat Kerja AFEBIS pertama kalinya yang dilaksanakan di FEB UIN Syarif Hidayatulloh. Hasil-hasil keputusan di antaranya:

  1. ADART AFEBI
  2. Kepengurusan AFEBIS
Berbagai kesepakatan dalam peningkatan kurikulum, penelitian, networking dan pengembangan jurnal.