AFEBIS ; Adakan Pertemuan Tahunan Se-Indonesia



Dalam rangka pertemuan tahunan Forum Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam se-Indonesia 23 – 24 Mei 2016 tempat gedung Training Center UIN Alauddin, fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar sebagai tuan rumah. Forum AFEBIS ini salah satunya akan dihadiri oleh UIN Syarif Hidayatullah jakarta, UIN Sunan kalijaga Jogjakarta, UIN Sunan Ampel surabaya,UIN Malang, IAIN Gorontalo dan perguruan tinggi Ekonomi lainnya, dalam agenda forum AFEBIS tema: “Strategi Pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia dalam era MEA” .

Panitia menghadirkan Narasumber Walikota Makassar Ir.H.Moh.Ramdhan Pamanto sebagai keynotespeaker, Prof Ambo Asse.M.Ag (Dekan FEBI,). Bambang Kiswono(Pimpinan OJK Sulawesi, Maluku, Papua). Prof Dr .H .Muhammad M.Ag (ketua STEI Yogyakarta). Dr Imam Yahya.M.Ag (Ketua AFEBIS), Santi Fatni,S.Kom (sekertaris Corporate Toshiba Indonesia). Fahmi Amirullah,S.Kom (kepala kantor perwakilan PT BEI Makassar).

Tujuan kegiatan adalah mempererat tali silaturrahmi antar fakultas ekonomi dan bisnis Islam se-Indonesia untuk membahas beberapa permasalahan dan isu isu strategis dan penting dibidang ekonomi Syariah di Indonesia, merumuskan strategi pengembangan ekonomi syariah agar semakin tumbuh dan berkembang secara produktif di Negeri kita tercinta Indonesia, karena yang hadir adalah para profesor, doktor ekonomi sebagai pakar dan penggiat ekonomi syariah yang selalu konsisten menggerakkan dan membumikan sistem ekonomi syariah…Ibnu hadjar yusuf, papar sekretaris panitia.

Forum pertemuan ini akan dihadiri kurang lebih seribu peserta, dari mahasiswa, dosen ,pimpinan Perguruan tinggi, pimpinan Bank, penggiat ekonomi usaha kecil menengah.

Sumber : http://www.bacaberita.com

Pengantar Tentang AFEBIS

 

Pendidikan nasional memiliki tiga dimensi tujuan; (a) pengembangan kepribadian peserta didik, (b) pembinaan peserta didik agar menjadi warga masyarakat dan negara yang baik, (c) penyiapan peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kemampuan dan ketrampilan yang fungsional bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakatnya. Dua dimensi tujuan yang disebut pertama merupakan tujuan instrinsik dari pendidikan, sedangkan tujuan yang disebut terakhir menunjuk pada dimensi tujuan instrumental, yaitu pendidikan sebagai wahana atau instrumen bagi perbaikan taraf hidup dan peningkatan pembangunan.
Perkembangan ilmu ekonomi yang begitu pesat dan mengalami update setiap saat masih dirasa belum memadai untuk merespon permasalahan ekonomi yang semakin komplek. Ilmu ekonomi yang bersifat positivistik dapat menganalisa secara cerdas setiap problematika ekonomi. Kemajuan dunia akademis ilmu ekonomi mampu malahirkan para pengamat jitu masalah ekonomi. Tetapi belum mampu membentuk para pelaku ekonomi yang handal yang secara makro dapat menciptakan kesejahteraan. Ini terbukti dengan semakin banyaknya ahli ekonomi, kesejahteran belum dapat dirasakan mayoritas penduduk dunia.

Problematika perekonomian rakyat semisal kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan ekonomi yang melebar tak kunjung teratasi.Beberapa tawaran konsep baik teoritis maupun praktis dalam teoriekonomi konvensional yang didominasi paham neoklasikal banyak bermunculan dalam kajian ekonomi.Namun seolah tidak mau kalah, problematika perekonomian semakin rumit dan terus melaju seiring dengan maraknya kajian tersebut.Kondisi demikian menimbulkan semacam keputusasaan terhadap teori ekonomi konvensional yang kapitalistis dengan munculnya pernyataan bahwa teori ekonomi telah mati.
Murasa Sarkaniputra memperkuat statemen ini dengan mengungkap berbagai tulisan ahli ekonomi sejak awal 1940-an dimulai oleh Joseph Schumpeter dengan bukunya Capitalism, Socialism and Democracy, disusul generasi berikutnya seperti Daniel Bell dan Irving Kristol dalamThe Crisis in Economic Theory,Mahbub Ul Haq dalamthe Poverty Curtain: Choice for the Third World,Michael P Todaro dalamEconomic Development in the Third World,Umar Vadillo dalamThe Ends of Economics: an Islamic Critique of Economicsdan yang lainnya menyebutkan bahwa teori ekonomi telah masuk dalam saat krisis.



Teori ekonomi konvensional banyak dikritik karena beberapa alasan. Pertama, paradigmanya tidak mengacu pada kepentingan masyarakat dunia sehingga ada dikotomi antara kepentingan individu, masyarakat dan negara dan hubungan antar negara. Kedua, teori ekonomi tidak mampu mengentaskan masalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Ketiga, teori ekonomi tidak mampu menyelaraskan hubungan antar regional di suatu negara, antara negara-negara di dunia, terutama antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang dan negara-negara terbelakang. Keempat, tentang terlalaikannya pelestarian sumberdaya alam. Teori, model dan sistem ekonomi yang sekarang berlangsung hanya ditujukan untuk melestarikan kepentingan negara-negara kaya (kapitalis). Negara-negara maju mengeksploitasi negara-negara berkembang dan terbelakang melalui investasi untuk menyedot kekayaan alam yang digunakan untuk memperkaya negaranya sendiri (Murasa Sarkaniputra: 2004).
Pada umumnya harapan akan teori baru ditumpukan pada wacana sistem ekonomi dengan teori baru, dalam hal ini adalah khazanah ekonomi Islam. Ekonomi Islam yang ajaran substansialnya sudah ada jauh mendahului munculnya ilmu ekonomi konvensional, namun sebagai sebuah diskursus keilmuan ekonomi Islam muncul belakangan. Kemunculannya pun tidak terlepas dari picuan ilmu ekonomi konvensional. Terlepas dari saling klaim mana yang lebih dahulu muncul, namun secara obyektif diakui bahwa antara keduanya ada saling mempengaruhi. Kemunculan ekonomi konvensional tidak terlepas dari interaksi dengan dunia Islam yang telah melahirkan khazanah tulisan-tulisan klasik yang berbicara tentang ekonomi. Demikian juga maraknya ekonomi Islam belakangan ini juga tidak terlepas dari sumbangan barat terutama dalam hal metodologi dan analisisnya.

Terbukanya lapangan kerja di beberapa bidang ketenagakerjaan berarti pula peluang bagi para sarjana lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Berbagai lapangan kerja yang cukup terbuka misalnya bidang pertanian, pertambangan, industri pengolahan, perdagangan, hotel, keuangan, dan jasa. Bidang-bidang ini memerlukan tenaga-tenaga handal yang menguasai ilmu ekonomi. Program studi di bidang ekonomi masih menjadi pilihan program studi favorit dari tahun ke tahun bagi calon mahasiswa. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dinilai merupakan program studi yang memiliki cakupan lebih besar. Keahlian di bidang ekonomi menjadi keahlian yang tidak pernah tidak laku termanifestasikan pula dalam suatu bentuk ekonomi kreatif. Keahlian ekonomi semacam ini mampu memadukan ide, seni dan teknologi yang menjadi tuntutan perkembangan dunia di abad ke-21 ini.idak hanya keahlian, profesionalisme dan kreativitas di bidang ekonomi yang dibutuhkan dalam dunia ketenagakerjaan yang semakin kompetitif ini, tetapi juga tidak kalah pentingnya aspek etika moral dalam perilaku ekonomi.
Permasalahan krisis yang melanda ekonomi dunia saat ini, lebih diakibatkan oleh krisis etika moral para pelaku dunia ekonomi.Problematika etika moral ini memiliki dampak yang lebih luas pada fungsi perekonomian secara umum.Keahlian di bidang ekonomi yang dilandasi nilai agama akan semakin banyak dibutuhkan. Penanaman moralitas berekonomi memerlukan pemahaman dan penghayatan nilai-nilai religiusitas yang melandasi perilaku ekonomi. Pembentukan etika moral perilaku ekonomi ini menuntut kiprah lembaga Perguruan Tinggi keagamaan yang dapat mencetak tenaga profesional yang handal sekaligus kepekaan moral berekonomi yang tinggi.
Untuk mencapai keinginan tersebut, maka perlu dibentuk wadah yang disebut Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam disingkat AFEBIS. Dan agar  wadah tersebut mampu berjalan secara baik, maka dalam menjalankan organisasinya harus sesuai dengan Angguran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
AFEBIS adalah wadah perkumpulan para penyelenggara pendidikan di lingkungan PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) Kementerian Agama baik UIN, IAIN, maupun STAIN. Dalam Peraturan Menteri Agama RI Nomor 36/2009 institusi keilmuan ekonomi Islam terdiri dari bidang ekonomi syari’ah, akuntansi syari’ah, manajemen syari’ah dan Bisnis syari’ah yang sangat memahami terhadap perannya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan tri dharma perguruan tinggi.

Sejarah Berdirinya AFEBIS

 
Terselenggaranya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Kementerian Agama RI merupakan respon terhadap perkembangan dunia ekonomi Islam di tengah masyarakat Indonesia. Ekonomi Islam tidak saja menjadi wacana tetapi menjadi sebuah keninscayaan yang berkembang di masyarakat ekonomi dengan munculnya berbagai lebaga perekonomian syariah baik berupa Lembaga Perbankan Syariah, modal syariah, bisnis syariah dan berbagai aktifitas masyarakat.

Sebagai Fakultas baru, FEBI harus bersiap untuk mewujudkan harapan masyarakat dan para pengguna lulusan (stake holder). Masyarakat berharap FEBI bisa memproduk sarjana berkarakter yang berbeda dengan FEB/FEBI di luar Kementerian Agama. Begitu juga degan stake holder juga menginginkan lulusan FEBI trampil tidak saja mempunyai skill profesional sekaligus memiliki nilai-nilai amanah dalam praktek menerapkan prinsip prinsip ekonomi syariah.

Untuk mempersiapkan harapan masyarakat yang sedeikian besarnya, maka perlu dipersiapkan berbagai hal diantaranya mempersiapkan kurikulum yang mampu memadukan tuntutan profesi sekaligus tetap mempertaahankan nilai-nilai keagamaan sbg PTKN. Di samping itu juga diperlukan jejaring dan kerjasama baik internal FEBI maupun kerjasama dengan berbagai institusi penyelenggaran maupun pengguna Ekonomi dan Bisnis.
Disadari bahwa untuk mempersiapakan kurukulum yang baik, penelitian, pengabdian dan pulikasi ilmiah serta jejaring yang luas, maka dibentuklah Fakultas baru di lingkungan IAIN/UIN dengan nama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam disingkat FEBI di lingkungan Kementerian Agama RI.

Menurut The Times Higher Education Supplement  (THES), untuk menjadi unggul, setidaknya ada empat indikator penting yang diperhatikan di sebuah perguruan tinggi (universitas), yaitu: 1) kualitas riset, 2) Daya Serap Lulusan ke Dunia Kerja (graduate employability), 3) Daya Pandang Internasional (International Outlook), yang ditentukan oleh jumlah program studi bertaraf internasional dan jumlah mahasiswa internasional, dan 4) Kualitas Pengajaran, yang ditentukan oleh rasio dosen dengan mahasiswa.

1)      Pada tangga 17 Desember 2013 Peresmian 6 FEBI di lingkungan Kemeneterian Agama RI di d loncing oleh Menteri Agama RI, Bapak Suryadharma Ali. Piagam pendirian FEBI di enam UIN/IAIN ditandatangani langsung oleh Menteri Agama RI tertanggal 14 Desember 2013. Pelaksanaan lounching di Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar secara bersamaan enam FEBI.

  1. FEBI Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar
  2. FEBI Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijogo Yogyakarta
  3. FEBI IAIN Walisongo Semarang
  4. FEBI IAIN Sumatera Utara
  5. FEBI IAIN Surakarta
  6. FEBI IAIN Raden Fattah Palembang

2)      Pada tanggal 9-10 Oktober 2014 diselenggarakan Lokakarya Pengembangan Kurukulum Ekonomi Islam dan  Pembentukan  Forum  Pimpinan  Fakultas  Ekonomi Bisnis  Islam   Di Lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri di FEBI IAIN Walisongo Semarang yang diikuti oleh 8 FEBI di seluruh Indonesia, 8 FEBI, 1 FSEI, dan 1 FEKONSOS. Peserta dari FEBI Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, FEBI Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijogo Yogyakarta, FEBI IAIN Walisongo Semarang, FEBI IAIN Sumatera Utara, FEBI IAIN Surakarta, FEBI IAIN Raden Fattah Palembang, FSEI Aceh dan FEKONSOS Riau.


Beberapa hal yang dihasilkan di antaranya adanya kerjasama dalam pengembangan kurikulum, akademik, penelitian, pengabdian dan publikasi ilmiah. Pokok-pokok masalah yang menjadi pembicaraan diantaranya:
  1.  FEBI secara massal dideklarasikan oleh Menteri Agama pada tanggal 17 Januari 2014 di UIN Makassar. Ada 6 FEBI yakni, Makassar, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Palebang, dan Medan. Sementara Tulung Agung dan Padang Sidimpuan dideklarasikan bersamaan dengan alih status STAIN-IAIN. Juga masih ada yang berproses dari FSEI ke FEBI seperti Aceh, serta masih eksis FEB dengan tambahan prodi ekonomi syariah dan perbankan syariah seperti Riau, Jakarta, dan Malang. Ada yang kelahirannya normal dan ada yang sesar (by desain dan by accident).
  2. Secara de jure kita telah diakui sebagai bagian dari AFEBI (Asosiasi FEB Indonesia), namun secara de facto kita masih perlu menampakkan eksistensinya dalam dunia penyelenggaraan pendidikan tinggi ekonomi dan bisnis di Indonesia. Sebagai gambaran di lingkungan FEBI Kementerian Agama belum ada kesepahaman tentang bentuk prodi yang nota bene berbasis pada rumpun Imu Ekonomi di Indonesiaa.
  3. Sesuai dengan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 36/2009 tentang pembidangan ilmu dan gelar, belum ada istilah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Yang ada adalah prodi Ekonomi Islam dan Perbankan Syariah yang masih menjadi bagian dari Fakultas Syariah atau Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam. Begitu juga  dengan Peraturan Dirjen Diktis 1429/2012 tentang Penataan Prodi, FEBI belum muncul beserta prodi-prodi yang ada di FEBI. Info terakhir draf penataan prodi baru di lingkungan PTKN masih belum di tanda tangani Menteri Agama.
  4. Sebagai bayi yang lahir di tahun 2014, FEBI dihadapkan pada berbagai persoalan ke depan yakni persaingan global Masyarakat Ekonomi ASEAN yang penuh dengan harapan sekaligus tantangan bagi para penyelenggaran pendidikan tinggi di Indonesia. Di bukanya kran MEA tentunya menjadi penyemangat bagi kita untuk senantiasa memperhatikan kualitas FEBI di lingkunga Kementerian Agama RI (problem eksternal).
  5. Tantangan kedua adalah problem akademik di mana Kementerian Agama hanya diperbolehkan untuk memberikan ijin terhadap prodi-prodi keagamaan di lingkungan Kemerterian Agama. Sementara di bawah kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bisa dibuka prodi keagamaan seperti PAI, EI yang sama persis dengan ijin yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama (problem internal). Secara akademik ekonomi Islam yang kita kembangkan di FEBI adalah ilmu ekonomi yang terkandung di dalamnya nilai-nilai Islam. Sementara ekonomi Islam di PTU merupakan bagian dari ilmu ekonomi.
  6. Untuk  itu dibutuhkan persiapan yang matang agar FEBI ke depan bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia dengan mengefektifkn peran sertanya dalam penyelenggaraan tri dhrma perguruan tinggi, dengan beberapa upaya yang bisa kita lakukan.

a)      Pendidikan dan pengajaran; dengan penataan ulang prodi-prodi di FEBI beserta blue print kurikulum standarnya.

b)      Penelitian dan Peengabdian Masyarakat; perlu segera ada jejaring pengelolaan jurnal yang representatif sebagai wahana publikasi keilmuan FEBisekalgus pengabdian masyarakat dengan mensosialisasi ilmu-ilmu ekonomi Islam.

c)      Pengembangan jejaringn kelembagaan FEBI. Kerjasama di antara FEBI/FEB di lingkungan Kementerian Agama merupakan kekuatan besar yang bisa mewarnai ekonomi Islam.

d)      Pengembangan Penjaminan Mutu di lingkungan FEBI dengan meningkatkan upaya-upaya positif sesuai dengan peratuan BAN-PT.

7.      Melalui acara Lokakarya Pengembangan FEBI di Semarang ini diharapkan menghasilkan keputusan-keputusan strategis agar FEBI bisa secepatnya eksis baik secara dejure maupun de facto. Di antaranya:

a)      Terbentuknya Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sebagai wadah untuk melakukan konsultasi.

b)      Terbentuknya jejaring penerbitan jurnal akreditasi di lingkungan FEBI di kementian agama.



3)      Pada 2-4 Oktober 2015 dilaksanakan Lokakarya Pengembangan Kurikulum Manajemen Syariah di FEBI UIN Medan. Kegiatan ini dihadiri oleh 24 FEBI dan FSEI dari UIN/IAIN/STAIN se Indonesia.

Beberapa peserta yang hadir, di antaranya:

  1. IAIN Banten, Dekan FEBI Dr. Masruroh, M.Si.
  2. IAIN Palopo,  FEBI, Tajudin Kajur PBS.
  3. IAIN Bukittinggi, Dekan FEBI  Dr. Arfandi, (PBS D,3, PBS, EI)
  4. IAIN Purwokerto, Dekan FEBI Dr. Fathul Aminudin Azizi.
  5. UIN Surabaya, FEBI. Hammis Syafa Wadel 1. (EI. Manajemen, Akuntansi dan Ilmu Ekonomi)
  6. UIN Ar Raniry, FEBI wadek Yasir Yusuf, (Ilmu Ekonmi, Ekonomi Syariah, Perbankan Syariah (d,3 dan S.1).
  7. STAIN PEKALONGAN, Ketua Prodi EI, Susminingsih.
  8. IAIN Salatiga, Dekan FEBI Anton Bawono (PBS, S.1 dan D.3, dan ES)
  9. UIN Alauddin Makassar, Dekan Prof Ambo Asse. Didiirikan 17 Juli 2013 dan  14 Desember 2013 FEBI diresmikan.
  10. IAIN Zawiyah Cotkala Langsa, Dekan FEBI Dr. Budiman, (PBS, EI)
  11. IAIN Padangsidempuan, Wadek FEBI.
  12. UIN Jakarta, FEB Arif dan Desmadi, (Ak, Manajamen, ISP, EI dan PBS)
  13. FEBI UIN Semarang (Dr. Imam Yahya, Dekan/ Wahab Zaenuri, WD.2)
  14. UIN Malang, Nur Asnawim dan Misbahul Munir, FE Ketua Manajemen/Akuntasni.PBS/EI).
  15. IAIN Surakarta, Aziz Slamet Wiyono wadek 1 FEBI.(manajemen syariah, pernabankan syariah dan akuntansi syariah).
  16. IAIN Pontianak, FSEI.
  17. UIN Palembang, Edison Dekan FEBI. (EI, PBS D.3 dan S.1).
  18. IAIN Jambi, Subhan Muhammada Abdurrahman Dekan FEBI.
  19. IAIN Samarinda. (prodi EI dan PBS).
  20. STAIN Jurai Siwo Lampung, Siti (PBS/PBS/EI/HEI)
  21. IAIN Imam Bonjol, Ahmad Wira Dekan FEBI Padang.
  22. Univ Brawijaya Ketua Prodi Ekonomi Islam, Dr. Iswandi.
  23. IAIN Bengkulu, FSEI (PBS dan ES).
  24. STAIBAR Barumun Sibuhuan,
  25. UIN Medan, FEBI.
4)      Pada tanggal 4-5 Februari 2016 diselenggarakan Rapat Kerja AFEBIS pertama kalinya yang dilaksanakan di FEB UIN Syarif Hidayatulloh. Hasil-hasil keputusan di antaranya:

  1. ADART AFEBI
  2. Kepengurusan AFEBIS
Berbagai kesepakatan dalam peningkatan kurikulum, penelitian, networking dan pengembangan jurnal.

AFEBIS Gelar Workshop Manajemen Syariah

Sebagai organisasi yang dianggap mampu melakukan  keselarasan, keseimbangan dan keteraturan institusi penyelenggara pendidikan tinggi di bidang ekonomi syari’ah, akuntansi syari’ah dan manajemen syari’ah, Assosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (AFEBIS )melaksanakan workshop nasional Program Studi Manajemen Syariah.

Kegiatan AFEBIS yang bekerja sama dengan Fakultas  Ekonomi dan Bisnis Islam  UIN Sumatera  Utara dilaksanakan pada tanggal 2-4  Oktober 2015 bertempat di hotel madani Medan. Pertemuan ini mengusung agenda sidang AFEBIS  dan Konsorsium Ekonmi Islam (KEI) se Indonesia. Agenda pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan silaturrahim AFEBIS serta menyelaraskan penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi dibidang manajemen syariah.

Dekan FEBI UIN Sumatera Utara selaku panitia pelaksana menuturkan bahwa Workshop nasional tentang program studi manajemen Syariah diharapkan dapat menghasilkan kurikulum keselarasan, keseimbangan dan keteraturan institusi penyelenggara pendidikan tinggi di bidang manajemen syariah. Sehingga dalam pelaksanaan sistem pendidikan perguruan tinggi yang bernaung di AFEBIS mempunyai keseragaman dalam pengembangan manajemen syariah di Indonesia.

 “Kami sangat mengharapkan kepada para peserta workshop nasional program studi manajemen syariah kali ini dapat menghasilkan rumusan pengembangan penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi agama Islam yang bernaung dibawah payung AFEBIS khususnya yang mempunyai program studi manajemen syariah, sehingga hal ini dapat dijadikan keselarasan, keseimbangan dan keteraturan institusi penyelenggara pendidikan tinggi di Indonesia”. Papar beliau dalam sambutanya. [uje]

Merumuskan AD/ART AFEBIS


Setelah penandatanganan deklarasi Assosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (AFEBIS ) di Hotel Graha Santika Semarang pada tanggal 13 Oktober 2014, secara rutin melakukan pertemuan tahunan untuk mengembangkan Ekonomi Syariah di Indonesia.

Dalam rangka menindaklanjuti pertemuan pasca deklarasi di Semarang, AFEBIS kembali melaksanakan pertemuan berikutnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan  agenda Rapat Kerja dan pembuatan Anggran Dasar dan Anggaran Dasar Rumah Tangga (AD/ART). Pertemuan yang dihadiri oleh dekan Fakultas ekonomi dan Bisnis Islam se PTKAIN di Indonesia berlangsung dengan lancar dan sukses. Adapun hasil pertemuan tahunan AFEBIS kali ini menghasilkan AD/ART AFEBIS dan Susunan Kepengurusan AFEBIS secara lengkap. 

Dr. H. Imam Yahya, M.Ag selaku ketua AFEBIS mengaku apresiatif sekali terhadap perguruan tinggi agama Islam yang dibawah naungan Kementerian Agama yang telah bergabung dan berjuang bersama untuk pengembangan ekonomi islam di Indonesia. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo ini sangat mengharapkan AFEBIS bisa menjadi  wadah yang dapat menjadi acuan dalam keselarasan, keseimbangan dan keteraturan institusi penyelenggara pendidikan tinggi di bidang ekonomi syari’ah, akuntansi syari’ah dan manajemen syari’ah.

“saya mengucapkan terimakasih sekali kepada bapak/ibu dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam se PTKAIN se indonesia yang telah bergabung di AFEBIS, semoga silaturrahiim dan perjuangan kita untuk mengembangkan ekonomi islam ini selalu diridhoi oleh Allah SWT. Dan saya juga berharap AFEBIS  harus dapat dijadikan sebagai wadah pengembangan dan penyelarasan pendidikan dibidang ekonomi islam, akuntansi syariah dan manajemen syariah di perguruan tinggi” tutur ketua AFEBIS dalam memberikan sambutannya. [uje]

AFEBIS Siapkan Strategi Menghadapi MEA.


Assosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (AFEBIS ) sebagai sebuah wadah yang dapat menjadi acuan dalam keselarasan, keseimbangan dan keteraturan institusi penyelenggara pendidikan tinggi di bidang ekonomi syari’ah, akuntansi syari’ah dan manajemen syari’ah,  untuk kesekian kalinya menyelenggara forum kajian ilmiah dengan topik “Stategi Pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia dalam Era MEA”.

Kegiatan tahunan ini dilaksanakan pada tanggal 23-24 Mei 2016 di Training Center  UIN Alauddin Makassar. Pertemuan yang dihadiri oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam se PTKAIN se indonesia bertujuan untuk memperat tali silaturrahmi antar PTKAIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) di Indonesia serta membahas beberapa permasalahan dan isu penting di bidang ekonomi syariah di Indonesia.

Acara ini dibuka oleh Walikota  Makassar ; Ir, H.  Mohammad Ramdhan Pomanto kemudian dilanjutkan Seminar Nasional tajuk “strategi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia” dengan narasumber ; Santi Fatni S.Kom (Corporate Secretary of Toshiba Corp Indonesia), Prof. Dr. Muhammad , Indonesia Stock Exchange (IDX) dan Otorotas Jasa Keuangan (OJK).

“Kehadiran MEA sendiri memberikan peluang dan tantangan bagi perekonomian Indonesia, tak terkecuali  AFEBIS yang dalam hal ini sebagai wadah kajian ekonomi dan bisnis Islam,  Untuk itu kita sebagai cendekia-cendekia ekonomi islam harus merumuskan strategi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia kedepan ”  papar Ir, H.  Mohammad Ramdhan Pomanto dalam pidatonya sebagai keynote speaker.  [uje]

Anggota AFEBIS


Anggota Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Se Indonesia (AFEBIS)

1. FEBI UIN Jakarta
2. FEBI UIN Yogyakarta
3. FEBI UIN Semarang
4. FEBI UIN Medan
5. FEBI UIN Surabaya
6. FEBI UIN Ar Raniry Aceh
7. FEBI UIN Palembang
8. FEBI UIN Makasar
9. FEBI IAIN Padang
10. FEBI IAIN Lampung
11. FEBI IAIN Bukittinggi
12. FEBI IAIN Banten
13. FEBI IAIN Tulungagung
14. FEBI IAIN Pontianak
15. FEBI IAIN Samarinda
16. FEBI IAIN Salatiga
17. FEBI IAIN Menado
18. FEBI IAIN Palopo
19. FEBI IAIN Surakarta
20. FEBI IAIN Purwokerto
21. FEBI IAIN Zawiyah Langsa
22. FEBI IAIN Jambi
23. FEBI Padangsidimpuan
24. FEB UIN Jakarta
25. FEB UIN Malang

AD/ART AFEBIS




                                                  ANGGARAN DASAR DAN
ANGGARAN RUMAH TANGGA

ASOSIASI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM (AFEBIS)

MUKADIMAH
Alhamdulillah, dalam kesempatan yang mulia ini Allah telah memberikan kesempatan kepada kita untuk mampu merumuskan suatu wadah yang disebut Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam disingkat AFEBIS.
AFEBIS sebagai organisasi kumpulan Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) PTKIN serta pendidikan Tinggi di bidang ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam lainnya, di lingkungan Kementerian Agama. Pendidikan tinggi di bidang ilmu ekonomi dan bisnis Islam ini merupakan suatu proses yang penting dilakukan secara terstruktur dan bertanggung jawab untuk menghasilkan lulusan yang mampu merespon kebutuhan masyarakat baik secara lokal, nasional, maupun international. Untuk itu perlu ada upaya penyelarasan, kesinambungan, dan keteraturan dalam berbagai upaya peningkatan dan pengembangan sumberdaya di lingkungan pendidikan tinggi ekonomi dan bisnis islam ini.
Untuk mencapai keinginan tersebut disusunlah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sebagai pedoman organisasi.



ANGGARAN DASAR
ASOSIASI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

BAB I
NAMA, BENTUK, WAKTU, DAN KEDUDUKAN DAN LAMBANG
Pasal 1
Nama Organisasi
Organisasi ini bernama Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (The Association of
Faculty of Economics and Business of Islam) selanjutnya disebut AFEBIS.
Pasal 2
Bentuk Organisasi
Organisasi ini berbentuk asosiasi yang beranggotakan Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) serta pendidikan Tinggia di bidang ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam lainnya di lingkungan Kementerian Agama  seluruh Indonesia.
Pasal 3
Waktu Pendirian
AFEBIS didirikan pada tanggal SEPULUH bulan OKTOBER tahun 2014 di Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang
Pasal 4
Kedudukan
Kesekretariatan AFEBIS berkedudukan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pasal 5
Lambang Febi Memiliki nIlai, Tauhid, Kesejahteraan, Keseimbangan, Ukhuwah dan Keadilan
BAB II
LANDASAN DAN SIFAT
Pasal 6
AFEBIS berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Pasal 7
Sifat
AFEBIS bersifat idependen


BAB III
MAKSUD, TUJUAN, DAN FUNGSI
Pasal 8
Maksud
AFEBIS bermaksud menghimpun potensi anggotanya untuk meningkatkan dan mengembangkan mutu Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) serta pendidikan Tinggi di lingkungan Kementerian Agama.
Pasal 9
Tujuan
AFEBIS bertujuan mewujudkan kerjasama antar anggota guna peningkatan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi berdasarkan saling pengertian dan saling sinergi dalam rangka mengamalkan nilai-nilai ekonomi berdasarkan  alquran dan hadits untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Pasal 10
Fungsi
AFEBIS berfungsi sebagai wadah kekeluargaan, persatuan dan kesatuan anggotanya yang ada di seluruh Indonesia dalam bidang akademik dan profesional sehingga dapat mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara efisien dan efektif.

BAB IV
KEGIATAN
Pasal 11
Untuk mencapai maksud dan tujuan seperti tersebut dalam Pasal 3 diatas, AFEBIS melaksanakan kegiatan antara lain :
1.      Melaksanakan Kegiatan kerjasama antar anggota guna meningkatkan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
2.      Berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pembangunan nasional di bidang ekonomi baik secara bersama atau kelompok dan sendiri sendiri maupun secara langsung dan tidak langsung.
3.      Meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan ilmu ekonomi Islam di Indonesia dan dunia.

BAB V
KEANGGOTAAN
Pasal 12
Anggota AFEBIS terdiri dari :
1)      Anggota Biasa
2)      Anggota Luar Biasa
3)      Anggota Kehormatan

BAB VI
ORGANISASI
Pasal 13
Kedaulatan
Kedaulatan tertinggi berada pada Kongres yang penyelenggaraannya diatur pada Anggaran Rumah Tangga.
Pasal 14
Struktur Pengurus
Pengurus AFEBIS disebut Dewan Pengurus yang dipilih dan disahkan melalui Kongres.
Pasal 15
Komisi-Komisi dan Alat Kelengkapan Kepengurusan
1)      Komisi-Komisi terdiri dari:
a.       Komisi Pendidikan dan Pengajaran;
b.      Komisi Penelitian;
c.       Komisi Kerjasama dan Pengabdian Masyarakat;
d.      Komisi Akreditasi dan Penjaminan Mutu;
e.       Komisi Pengembangan Organisasi.
2)      Alat kelengkapan kepengurusan adalah tim manajemen eksekutif.
3)      Penjelasan dan ketentuan mengenai Badan-badan dan alat kelengkapan kepengurusan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB VII
MUSYAWARAH DAN RAPAT-RAPAT
Pasal 16
1. Permusyawaratan AFEBIS terdiri dari:
a)      Kongres.
b)      Kongres Luar Biasa.
c)      Sidang Pleno
2. Rapat-rapat terdiri dari:
a)      Rapat Kerja.
b)      Rapat Pengurus.
c)      Rapat Komisi.
BAB VIII
KEUANGAN ORGANISASI
Pasal 17
Sumber keuangan untuk menyelenggarakan kegiatan AFEBIS berasal dari :
1)      Uang pangkal keanggotaan
2)      Iuran wajib anggota
3)      Sumber lain yang sah dan bersifat tidak mengikat




BAB IX
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN
Pasal 18
Perubahan Anggaran Dasar
Perubahan anggaran dasar hanya dapat dilaksanakan oleh Kongres
Pasal 19
Pembubaran
Pembubaran AFEBIS hanya dapat dilakukan oleh Kongres  luar biasa
berdasarkan usulan lebih dari setengah jumlah anggota AFEBIS.

BAB X
PENGESAHAN DAN ATURAN TAMBAHAN
Pasal 20
Pengesahan
Pengesahan anggaran dasar AFEBIS ditetapkan oleh rapat pertemuan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)  pada tanggal 4 Februari 2016  di Jakarta.

Pasal 21
Aturan Tambahan
Hal-hal yang belum diatur dalam anggaran dasar ini akan dimuat dalam anggaran rumah tangga atau peraturan/ketentuan lain sepanjang tidak bertentangan dengan anggaran dasar ini.









ANGGARAN RUMAH TANGGA
ASOSIASI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS INDONESIA

BAB I
KEANGGOTAAN
Pasal 1
Keanggotaan
1.     Anggota Biasa (Full member) adalah Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) serta pendidikan Tinggi di bidang ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam yang diselenggarakan oleh Pemerintah di bawah naungan Kementerian Agama di Indonesia yang telah diterima sebagai anggota AFEBIS.
2.     Anggota Luar Biasa (Associate Member) adalah Fakutas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) serta Perguruan  Tinggi di bidang ilmu Ekonomi dan Bisnis Islam yang diselenggarakan oleh masyarakat di bawah bimbingan KOPERTAIS dan telah memenuhi persyaratan keanggotaan yang ditetapkan.
3.     Anggota Kehormatan adalah para mantan pimpinan, dan/atau perorangan yang telah berjasa kepada AFEBIS dan/atau lembaga/perusahaan yang secara khusus diundang oleh AFEBIS untuk menjadi anggota kehormatan serta yang keanggotaannya ditetapkan oleh sidang Pleno AFEBIS.

Pasal 2
Tatacara Penerimaan Anggota
(1) Pendaftaran anggota biasa dan luar biasa :
a)      Mengajukan permohonan tertulis sebagai anggota.
b)      Mengisi formulir pendaftaran anggota.
c)      Mengirimkan persyaratan dan dokumentasi institusi.
d)     Menandatangani persetujuan, mentaati dan melaksanakan AD dan ART AFEBIS.
e)      Bersedia aktif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan AFEBIS.
f)       Membayar uang pangkal dan iuran wajib tahunan anggota.
g)      Anggota luar biasa (associate member) akan menjadi anggota biasa (full member) setelah paling tidak menghadiri minial dua kali Pleno dan mendapat persetujuan dari Kongres.

Pasal 3
Hak Anggota
Hak Anggota AFEBIS sebagai berikut :
1)      Setiap Anggota Biasa mempunyai satu suara dan berhak untuk memilih dan dipilih sebagai Pengurus AFEBIS.
2)      Setiap Anggota Luar Biasa mempunyai hak untuk bicara, namun tidak mempunyai hak Suara.
3)      Setiap Anggota Kehormatan mempunyai hak untuk bicara, namun tidak mempunyai hak suara.
Pasal 4
Kewajiban Anggota
Kewajiban Anggota AFEBIS Sebagai berikut :
1)      Wajib Mematuhi AD/ART
2)      Menjaga nama Baik
3)      Membayar Iuran Anggota
4)      Mentaati dan melaksanakan segala keputusan AFEBIS.

Pasal 5
Sanksi
1)      Anggota yang melakukan pelanggaran terhadap AD/ART atau tidak memenuhi kewajibannya akan diberikan sanksi.
2)      Pemberian sanksi dilakukan melalui beberapa tahapan :
a.       Peringatan lisan
b.      Peringatan tertulis
c.       Pencabutan status keanggotaan
3)      Apabila peringatan lisan tidak di indahkan maka akan diberikan peringatan secara tertulis.
4)      Apabila peringatan tertulis sejak tanggal diterbitkan surat peringatan sampai masa 1 (satu) tahun tidak di indahkan maka secara otomatis akan di cabut status keanggotaanya.
5)      Anggota AFEBIS yang diberikan sanksi pencabutan status keanggotaanya dapat mengusulkan pembelaan diri melalui Konggres.

Pasal 6
Pencabutan Keanggotaan
1)        Pencabutan status keanggotaan apabila :
a)      Melanggar AD-ART AFEBIS
b)      Mencemarkan nama baik AFEBIS
c)      Institusi yang bersangkutan ditutup.
d)     Atas permintaan sendiri secara tertulis kepada ketua AFEBIS.
2)      Keputusan pemberhentian Anggota oleh Pengurus AFEBIS dilakukan setelah mendengar pembelaan dari yang bersangkutan.
3)      Anggota AFEBIS yang sudah berhenti dapat direhabilitasi kembali

BAB II
ORGANISASI
Pasal 7
Rapat
1)      Rapat dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya setengah plus satu peserta rapat.
2)      Apabila musyawarah/rapat tidak memenuhi quorum maka rapat ditunda dan waktunya ditentukan kemudian walaupun tidak memenuhi quorum.
3)      Pengambilan Keputusan mengutamakan musyawarah mufakat.
4)      Apabila musyawarah mufakat tidak dapat dipenuhi maka dilakukan voting.

Pasal 8
Kongres
1)      Kongres merupakan kekuasaan tertinggi AFEBIS dan merupakan pemufakatan anggota
AFEBIS.
2)      Peserta Kongres terdiri dari pengurus dan anggota AFEBIS.
3)      Kongres diadakan setiap dua tahun sekali.
4)      Dalam keadaan tertentu Kongres dapat dilaksanakan setiap saat atas permintaan lebih dari separuh anggota.

Pasal 9
Kekuasaan dan Kewenangan Kongres
1)      Menilai pertanggung jawaban pengurus AFEBIS, terkait dengan tugas yang diberikan oleh Kongres sebelumnya.
2)      Menetapkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta garis besar program kerja AFEBIS.
3)      Memilih Dewan Pengurus
4)      Mengukuhkan kepengurusan AFEBIS terpilih.
5)      Menetapkan tempat penyelenggaraan Kongres berikutnya.

Pasal 10
Tata Tertib Konggres
1)      Pengurus adalah penanggung jawab pelaksanaan Kongres sesuai dengan jadwal waktu yang ditetapkan termasuk jadwal waktu setiap saat Kongres luar biasa diperlukan.
2)      Kongres dihadiri oleh pengurus  dan anggota AFEBIS.
3)      Setiap anggota mempunyai hak bicara dan hak suara.
4)      Setiap anggota luar biasa hanya mempunyai hak bicara
5)      Kongres dipimpin oleh tiga orang pimpinan sidang yang dipilih peserta Kongres.
6)      Pengesahan kuorum, pembahasan dan pengesahan agenda konggres, tata tertib rapat dan pemilihan pimpinan rapat dipimpin oleh pengurus AFEBIS.
7)      Pengesahan kuorum dinyatakan sah apabila dihadiri oleh minimal separuh jumlah anggota ditambah satu.
8)      Laporan pertanggung jawaban yang diterima oleh Kongres akan menunjukkan bahwa kepengurusan lama demisioner.
9)      Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib ini akan diatur dalam peraturan tersendiri.

Pasal 11
Kepengurusan AFEBIS
   Pengurus AFEBIS  terdiri dari  :
a)      Dewan Pengarah terdiri dari ketua dan anggota
b)      Dewan Penasehat Terdiri dari ketua dan anggota
c)      Dewan Pakar terdiri dari ketua dan anggota
d)     Dewan Pengurus  terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara dan wakil bendahara.
e)      Komisi komisi terdiri dari ketua, sekretaris serta anggota

Pasal 12
Tugas dan Fungsi
1)      Tugas  dan Fungsi Dewan Pengarah:
Tugas dan fungsi Dewan Pengarah antara lain :
a.       Memberikan pendapat dan informasi yang berhubungan dengan kebijakan pengembangan ekonomi islam di perguruan tinggi
b.      Memberikan masukan kepada AFEBIS  baik berkaitan dengan  organisasi maupun teknis yang lain
2)      Tugas dan Fungsi Dewan Penasehat
Tugas dan fungsi Dewan Pengarah antara lain :
a)      Memberikan masukan  kepada AFEBIS  yang berhubungan  dengan pelaksanaan program kerja yang ditetapkan
b)      Melakukan evaluasi atas program, dalam rangka efektifitas kinerja organisasi AFEBIS
3)      Tugas dan Fungsi Dewan Pakar
Tugas dan fungsi Dewan Pakar antara lain :
a)      Memberikan  pendapat   tentang program yang akan dilaksanakan oleh AFEBIS.
b)      Menjadi  Konselor program AFEBIS
c)      Memberikan motivasi, pengalaman,  pemikiran dalam rangka jejaring dan Kemajuan AFEBIS


Pasal 13
Syarat Pengurus
1)      Beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
2)      Memiliki etos kepemimpinan yang baik, berdedikasi terhadap pekerjaan dan jabatan yang diembannya.
3)      Memiliki kepedulian dan perhatian yang cukup terhadap perkembangan AFEBIS.
4)      Menjabat sebagai pimpinan Fakultas.
5)      Menyatakan kesediaan sebagai pengurus.

Pasal 14
Tugas dan Kewenangan Pengurus AFEBIS
1)      Melaksanakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta keputusan atau ketetapan yang telah ditetapkan oleh Kongres.
2)      Menginformasikan setiap pengambilan keputusan atau perubahan keputusan Kongres (jika dipandang perlu) untuk kemudian dipertanggung jawabkan dalam Kongres berikutnya.
3)      Membina hubungan baik dan kerjasama dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, didalam maupun diluar negeri.
4)      Menyampaikan laporan pertanggung jawaban secara tertulis dan lisan kepada seluruh anggota melalui Kongres.
5)      Melaksanakan Sidang Pleno  minimal dilaksanakan  sekali setiap tahun

Pasal 15
Tata Kelola AFEBIS
1)      Susunan pengurus AFEBIS di umumkan dihadapan peserta Kongres.
2)      Pengurus melakukan tugas setelah dilakukan serah terima dari kepengurusan lama.
3)      Untuk melaksanakan tugas dan kegiatannya, pengurus menetapkan dan mematuhi jadwal pertemuan rapat.
4)      Rapat lain ditetapkan oleh pengurus  AFEBIS  jika diperlukan.

Pasal 16
Komisi-Komisi AFEBIS
1)      Deskripsi tugas komisi-komisi AFEBIS adalah sebagai berikut:
a)      Komisi Pendidikan dan Pengajaran memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran anggota organisasi, melalui pertukaran informasi best practices bidang pendidikan dan pengajaran.
b)      Komisi Penelitian memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraanpenelitian anggota organisasi, melalui pertukaran informasi best practices di bidang penelitian.
c)      Komisi Kerjasama dan Pengabdian pada masyarakat memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas dan kuanitas penyelenggaraan kerjasama intra dan ekstra organisasi.
d)     Komisi Akreditasi dan Penjaminan Mutu memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas peraihan akreditasi program anggota baik untuk standar nasional maupun internasional.
e)      Komisi Pengembangan Organisasi memiliki tugas untuk memberikan usulan-usulan pengembangan organisasi AFEBIS kepada pengurus sesuai dengan konteks dan perubahan lingkungan organisasi.
2)      Anggota Komisi berasal dari anggota AFEBIS.
3)      Komisi-komisi mempertimbangkan unsur kewilayahan.
4)      Komisi dapat mewakili ketua AFEBIS dalam pertemuan yang terkait dengan bidangnya.
5)      Setiap Komisi dapat membina hubungan baik dan kerjasama dengan pihak lain yang terkait dengan bidangnya, baik intansi pemerintah maupun swasta di dalam maupun luar negeri.


BAB III
KEUANGAN
Pasal 17
1)      Keuangan organisasi dan besarannya diperoleh dari :
a)      Iuran pangkal sebesar Rp 3.000.000- (tiga juta rupiah)
b)      Iuran wajib sebesar Rp 2.000.000- ( dua juta rupiah) per tahun
c)      Sumber lain yang sah dan tidak mengikat
2)      Semua dana dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan AFEBIS dan mempekerjakan tenaga sekretariat dan dipertanggung jawabkan dalam Kongres.

BAB IV
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN
ANGGARAN RUMAH TANGGA
Pasal 18
(1) Perubahan AD-ART AFEBIS dapat dilakukan melalui Kongres.
(2) Rencana perubahan diusulkan oleh pengurus berdasarkan usulan anggota.




BAB V
ATURAN PERALIHAN DAN ATURAN TAMBAHAN
Pasal 19
Aturan Tambahan
Hal-hal yang belum di atur dalam anggaran rumah tangga ini dimuat dalam peraturan organisasi sepanjang tidak bertentangan dengan AD-ART AFEBIS.

Ditetapkan di   : Jakarta
Pada Tanggal    : 4 Februari 2016

Rapat Pimpinan Forum Dekan:
1. Ketua                      : Dr. Imam Yahya Iliyas , M.Ag
2. Sekretaris                : Dr. Akmal Tarigan, M.Ag